Suara hati rakyat kecil

Posts tagged ‘RASULALLAH’

JIHAD……..!!!

Dalam sebuah hadits, Rasululullah saw menyatakan, “Jihad yang paling utama adalah mengungkapkan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim.”
Pada kesempatan lain, Nabi mengungkapkan, “Orang yang diam dari kebenaran, sama dengan syetan yang bisu.”

Di dalam A-Qur’an, Allah swt berfirman: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan menyegah yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung,” (Ali Imraan: 104).

Lalu, dalam Surat Al-Muthaffifiin (1-6), Allah memberi peringatan: ”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?”

Ketika ditanya tentang perkara yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, Rasulullah menjawab: “Dua bagian dari tubuh manusia, yaitu lisan dan kemaluannya.” Lalu, perkara apakah yang paling banyak memasukkan manusia ke surga? “Takwa kepada Allah, dan akhlak yang mulia.”

Mengungkapkan kebenaran, samanya kata dan perbuatan, tidak berbuat curang, itulah akhlak yang mulia. Itulah kejujuran. Rasulullah menjelaskan: ”Sesungguhnya, jujur itu memberikan petunjuk kepada kebajikan, dan kebajikan memberikan petunjuk kepada surga.” Tentang perilaku yang sebaliknya, Nabi mengatakan: ”Sesungguhnya dusta itu memberikan petunjuk kepada hal-hal maksiat, dan hal-hal maksiat memberikan petunjuk kepada neraka.”

Dan, ”Sesungguhnya seorang lelaki tidaklah berbuat jujur sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sesungguhnya seorang hamba tidak berbuat dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Sifat jujur juga melekat dan tumbuh melalui sifat qana’ah, menerima dan menggunakan segala sesuatu secukupnya. Tidak berlebihan. Menghindari ketamakan. Kisah Khalifah Abubakar adalah teladan yang indah bagi kaum muslimin:

Syahdan, sehari setelah diangkat sebagai khalifah, Abubakar ditegur oleh Umar bin Khattab karena hendak berjualan kain ke pasar sebagaimana biasanya.

“Jika engkau sibuk berdagang, siapakah yang akan melaksanakan tugas kekhalifahan?” tanya Umar.

“Jika tidak boleh berdagang, lalu bagaimana aku harus membeayai keluargaku?” Abubakar balik bertanya.

Umar kemudian mengajak Abubakar untuk menemui Abu Ubaidah – yang oleh Nabi dijuluki sebagai “penjaga amanah” – untuk meminta ketetapan tentang gajinya. Abu Ubaidah pun menetapkan jumlah tunjangan untuk khalifah, yang diambil dari Baitul Mal, yang besarnya sama dengan tunjangan untuk seorang muhajirin lainnya. Tidak kurang dan tidak lebih.

Hinga suatu hari, istri Abubakar mengutarakan isi hatinya: “Aku ingin makan sedikit manisan,” ujarnya.

Abubakar berkata, ”Aku tidak punya uang untuk membelinya.”

”Jika engkau izinkan, akan kuhemat uang belanja sehari-hari agar dapat membeli manisan itu,” kata istrinya. Sang suami setuju.

Beberapa waktu kemudian, setelah tabungannya mencukupi, sang istri menyerahkan uangnya kepada Abubakar untuk dibelikan manisan di pasar. Begitu menerima uang itu, Abubakar lantas berkata, ”Tampaknya, dari pegalaman ini, uang tunjangan kita dari Baitul Mal telah melebihi keperluan kita.”

Abubakar lalu memutuskan untuk mengembalikan uang tabungan istrinya itu ke Baitul Mal. Dan sejak itu, tunjangan Abubakar dikurangi sebesar uang yang dapat dihemat oleh istrinya itu.

Alangkah indahnya, bila bangsa kita mau berjihad, untuk berlaku jujur — mengungkapkan kebenaran, menyamakan kata dengan perbuatan, tidak berbuat curang, dan qana’ah — sekarang juga. Insya Allah.

Awan Tag