Suara hati rakyat kecil

Archive for Desember 3, 2010

Warteg Kena Pajak

Pemerintah propinsi DKI jaya seperti sudah kehabisan akal untuk meningkatkan pendapatan daerah dari pajak, bayangkan saja ” WARTEG” yang nota bene adalah warung tegal  tampat makannya rakyat kecil mau dikenakan pajak 10% mulai tahun depan, bukankah ini ide gila yang tidak mempertimbangkan rasa keadilan, rakyat kecil yang biasa makan di warteg berapi sih..? penghasilannya, dan pastinya pajak 10% itu yang bayar pasti konsumen warteg itu sendiri, walau pemda berdalih omzet warteg bisa mencapai Rp.60 jt/tahun.

Pemprov DKI apa tidak jalan laen selain “ngompasin” rakyat kecil, bukankah…? banyak penggede dan orang kaya yang lari tidak mau membayar pajak, kejar dong…? mereka, jangan rakyat kecil terus dari sapi perahan, rakyat kecil hidupnya sudah sangat sulit jangan bebani mereka dengan biaya yang tak jelas untuk apa biaya tersebut.

Hasil dari pajak tersebut katanya akan dikenbalikan dalam bentuk prasarana, prasarana yang mana…? selama ini pajak tak jelas peruntukannya, contoh soal, jalan tol dibangun oleh Jasa Marga dan jika kita ingin menggunakan faslitas jalan tol harus bayar ditambah macet pula, busway tetap saja bayar, rumah sakit bayar, sekolah bayar, apapun yang ada di DKI harus bayar, lalu kemana uang pajak tersebut, atau masih kurang pajak yang didapat pemerintah DKI, seperti tak mungkin jika pajak di DKI masih kurang, yang pasti pajak di DKI tak jelas pengeluarannya dan banyak “gayus – gayus junior” di kantor pajak.

Andai uang pajak di DKI dikelola dengan benar dan tak ada “gayus” dikantor pajak pasti tak ada lagi orang miskin di DKI,

Sebaiknya pemerintah Propinsi DKI perbaiki orang – orangnya lebih dahulu, mungkin jika mungkin rekruit “Penghuni Surga” yang sudah pasti akhlak dan moralnya, karena jika masih merekruit orang – orang penghuni “Bumi”  tak akan ada perubahan, karena orang – orang bumi masih doyan rupiah.

Pemprov DKI kasihanilah kami rakyat kecil.

kanen sumantri

Iklan

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.[1]

Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan[2] yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman[3].

Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tujuh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan)[4][5]. Selain itu Keraton Yogyakarta memiliki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisi lain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta.

Dari WIKIPEDIA Indonesia.

Awan Tag